Wednesday, September 23, 2020

Berpisah Sejenak

 Hari ini, Hani ikut berangkat kerja. Aku checklock ke sekolah sambil menggendong Hani. Kakak Sani di rumah. Hani berpisah sejenak dengan kakak. Hani ke rumah nenek nya di Panjunan, Sidoarjo. Setelah ikutan ke sekolah, Hani diletakkan di rumah Panjunan, bersama Mbak Mina. Awalnya menangis, karena ditinggal oleh diriku dan ayahnya. Namun setelah bermain dengan anak tetangga, akhirnya sudah selesai nangis nya, ganti asyik bermain.

Sani di rumah bersama nenek nya di rumah Banar, Wonoayu. Rumah yang kami tinggali sehari-harinya. Sedih melihat mereka berdua berpisah, namun gimana lagi. Semenjak mereka mulai minta berjalan. Satu ke sana kemari, tidak bisa menuntun mereka secara berbarengan. Kasihan ibuku mendua. Mereka akhirnya ada yang terjatuh dari kereta dorong, untungnya tidak apa-apa. Hanya menangis saja. Namun setelah itu, kami putuskan berpisah, agar ada yang menjaga mereka satu satu. Biar fokus. Tidak ada yang tersakiti.

Pada awal penyesuaian seperti ini memang pilu, sedih. Bahkan mereka menangis karena saudaranya jauh. Sepulang sekolah baru ketemu lagi. Kasihan, tapi ini semua kami lakukan demi keamanan mereka. Hingga mereka bisa berjalan nantinya. Supaya saling aman. Ibuku juga kasihan harus menjaga mereka berdua sekaligus di satu tempat. Apalagi semakin aktif, mulai minta berjalan. Belum bisa mandiri, harus dituntun. Itulah susahnya menjaga dua anak (kembar) yang mulai aktif berjalan di usia setahun ini. Masya Allah, semoga sehat semuanya, diberikan kesabaran dalam mendampingi si kembar. 

Sepulang sekolah, kami berdua pulang diantar ayah mertuaku. Hani ku gendong hingga tertidur. Tidak lupa kuberikan selimut dan masker balita. Walau terkadang Hani risih karena memakai masker. Belum terbiasa saja. Di jalan raya harus pakai masker ya gaes.

Semoga lekas happy ending, bisa jalan semuanya secara mandiri dan berkumpul lagi di rumah Banar.

Aamiin.


#babytwinstory #amalahchoiruul #khoirulamalah

#happy1YO 





Monday, September 7, 2020

AMALAH

 Aku akan menceritakan kisah seorang wanita cantik asal Sidoarjo, dia bernama Amalah. Amalah adalah anak ke dua dari dua bersaudara, ia tinggal di kota Sidoarjo, tepatnya di daerah Wonoayu, kalau dari Sidoarjo kota kira-kira 10 menit. Amalah tinggal bersama Ibu dan neneknya, ayahnya sudah lama meninggal sejak ia SMA. Maka dari itu, di rumah tersebut hanya ada wanita, tanpa ada seorang lelaki yang bisa dijadikan tumpuan. Tanpa adanya seorang ayah, amalah dalam melalui kehidupannya membutuhkan sosok laki-laki untuk diminta pendapat, memberi solusi bahkan mengantarnya untuk kuliah. Amalah akhirnya menjadi seorang wanita yang mandiri, kuat dan keras. Bahkan ia memilih untuk kuliah di luar kota, yakni Jember. Disana ia mandiri tanpa kenal siapa pun. Ia kuliah di Universitas Jember selama 3,5 tahun. Setelah menyelesaikan kuliahnya, kemudian ia kembali ke kota kelahirannya. Di Sidoarjo ia kemudian mencari pekerjaan sebagai pengajar, awalnya ia mengajar di LBB. Kemudian ia mencoba untuk melamar pekerjaan sebagai guru di sekolah islam di Sidoarjo. Alhamdulillah, ia pun diterima di sekolah tersebut. Amalah yang selama kuliah tidak memiliki background sama sekali mengenai mengajar sekolah Islam. Suasana dan kebiasaan antara sekolah umum dan sekolah islam sangat jauh berbeda. Di sekolah Islam pastinya pelajaran agama sangat ditekankan, disamping pelajaran umum. Awalnya ia merasa minder dan malu karena ia tidak mengerti mengenai kebiasaan dalam sekolah islam. Seiring berjalannya waktu ia pun menjadi semakin paham dan menerapkan kebiasaan di sekolah islam dalam kehidupan sehari-harinya. Amalah menjadi lebih sabar, sopan dan paham mengenai tata cara bergaul dengan orang lain, dan juga lawan jenis. Bahkan ketika ia hendak mencari pasangan hidup, harus melalui prosedur secara Islam. Kalau orang biasa pastinya taunya kenalan, pacaran, menikah. Sedangkan, menurut Islam pacaran itu merupakan hal yang berdosa, karena bertemunya lawan jenis yang bukan mahrom. Ia pun dikenalkan dengan ustad, pengajar, pegawai kantoran, tetapi semuanya tidak ada yang membuatnya pas. Setelah beberapa lama, kemudian saudara sepupunya mengajaknya untuk mencari jodoh melalui online. Amalah pun mengiyakan, karena itu merupakan salah satu ikhtiarnya untuk mendapatkan jodoh. Tak berapa lama, akhirnya jodohnya ketemu, melalui media online tersebut. Calonnya juga berasal dari satu kota juga, Alhamdulillah mereka berdua juga sangat cocok, walaupun tidak pacaran terlebih dahulu. Ini yang namanya jodoh. Alhamdulillah...